Connect with us

Bontang

Dari TikTok, Pelajar MTS Al-Amin Loktuan Ini Harumkan Nama Bontang di Nasional

Published

on

BEKESAH.co, Bontang – Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendulang prestasi membanggakan di tengah keterbatasan.

Seperti yang ditorehkan pelajar kelas 8 MTS Al-Amin Loktuan, Ratu Casila Fitri Aulia. Hobinya menonton TikTok mengantarkan dia hingga meraih juara perunggu di Kompetisi Sains Madrasa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat nasional.

Ratu Casila Fitri Aulia saat ditemui Bekesah. (Syahrul Sindring)

Ditemui di sekolahnya, Ratu –sapaan akrabnya– tampak malu-malu bicara dengan awak redaksi. Dara kelahiran Bontang 3 Oktober 2008 itu baru saja mengikuti kompetisi tahunan yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Ratu menuturkan, ketertarikannya dengan mata pelajaran IPA baru setahun belakangan. Uniknya, ia tertarik lewat konten-konten edukasi di aplikasi TikTok.

“Saya suka nonton TikTok kak. Terus muncul di FYP. Nah saya lihat terus. Akhirnya malah keterusan jadi suka,” ungkap pelajar yang bercita-cita menjadi dokter Umum ini.

Prestasi moncer anak ketiga dari empat bersaudara itu, tidak diperoleh dengan instant. Dia harus mengikuti seleksi di sekolah terlebih dahulu.

Advertisement

Awalnya, Ratu tidak tahu menahu soal adanya kompetisi. Namun informasi itu mulai dia ketahui saat gurunya mengabarkan.

“Kami dites sama guru. Ada 3 mata pelajaran IPA, IPS, dan Matermatika,” ungkapnya.

Dari situ pihak sekolah, melihat anak dari pasangan Nahrullah dan Marlina punya potensi. Ia akhirnya ditunjuk mewakili sekolah untuk mata pelajaran IPA  mengikuti kompetisi Sains Madrasah tingkat kota.

Siapa sangka, persiapan yang tidak terlalu matang malah mengantarkan Ratu juara 3. Ia kemudian mewakili Bontang di ajang KSM tingkat provinsi. Semangatnya belajar kembali mengantarkan dia meraih medali emas.

“Nggak nyangka bisa juara 1 dari perwakilan 10 kabupaten/Kota di Kaltim,” ungkap.

Advertisement
Baca Juga  Kebakaran Hebat di Berbas Pantai, Warga Panik Berhamburan

Saat Ratu berkompetisi di tingkat nasional dirinya sebenarnya mengalami kesulitan. Pasalnya, kompetisi tersebut terdapat ujian praktikum, sedangkan di sekolah tidak memiliki fasilitas untuk praktik seperti yang diujikan di tingkat nasional. Bahkan di tingkal kota dan provinsi tidak ada ujian semacam itu,” kata Ratu.

Kendati demikian, Ratu tidak gentar. Dirinya hanya bisa membaca basmalay dan berdoa.

“Kemudian langsung membelah cumi yang sebagai objek praktikumnya,” sambungnya

Ratu diberi waktu sekitar 3 jam untuk menyelesaikan ujian praktikum tersebut.

Menurut Darlina sang guru sekaligis pembimbingnya pada saat kompetisi, Ratu cepat tanggap dan memiliki tingkat pemahaman yang tinggi. Sebab setiap dijelaskan sebuah materi dirinya cepat tanggap dan cepat paham.

Advertisement

“Memang saya secara langsung merasakan potensi didalam diri Ratu, tambahnya.

Adapun harapan dari guru para dan kepala sekolah agar anak murid mereka itu mendapat simpati dari Pemerintah Kota Bontang.

“Minimal beasiswa agar Ratu dapat belajar dan meningkatkan potensinya dengan tenang tanpa harus terbebani oleh biaya suatu saat nanti. Mengingat bahwa anak ini bukan dari keluarga yang berada,” sambung kepala sekolah Munir Abdullah.

“Terima kasih kepada pihak pihak yang telah membantu dari segi materi yang sebenarnya masalah utama dalam perjalanan menuju tingkat nasional ini,” pungkasnya.

Penulis : Syahrul Sindring

Advertisement