Trending

Susah Senang Musik Bontang Ft. MACHDIS ARIE – EPS. 01

Obrolan kami dengan Machdis Arie dari KILMS dan Sunrise seputar musik, rambut emo dan tentu saja Scream of Freedom

MARI berdamai dengan kontroversi di sekeliling Killing Me Inside, band emo metal yang tenar tahun 2000-an silam. Karena buat Machdis Arie, hiruk pikuk atas nama band tersebut jadi bagian dari dirinya sebagai pendengar KMI di jaman itu.

Seperti anak sekolah yang ngeband pada umumnya di medio 2000an, Arie (@machdis_arie) memilih lagu rock metal sebagai bukti eksistensi anak muda yang keren dari panggung ke panggung. “Saya dulu gak bayangin bisa main sama Josaphat, AIU (GARASI) dan Joe (Saint Loco). Ya gimana, kita kan dengerin musik mereka waktu jaman itu,” kata Arie.

Memilih bermain band, apalagi di skena hardcore/metal diakuinya penuh konsekuensi. Pasarnya tidak bisa dibilang sempit, tapi juga tak cukup luas di Indonesia. Sampai dia ambil keputusan: “hijrah ke ibu kota.”

Di Jakarta, Arie berkesempatan bergabung dengan Sunrise sebagai bassist, salahsatu liner post-hardcore/emo terbaik ibu kota. Putra Pra Ramadhan, anak Bontang lainnya, juga berada di band indie yang sama. Kini Putra pindah ke Burgerkill, masih menggebuk drum.

Tahun 2018, Arie menjadi bagian dari KILMS. Akronim yang erat dikaitkan dengan Killing Me Inside tapi tidak dengan musiknya. Paling tidak itu yang kami rasakan. KILMS berbeda dan perlu didengarkan.

Episode ini mempertemukan Arie dan Indra (@gorenganbasi.str), dua kawan lama untuk ngobrol soal jaman susah kala bermusik di Bontang, Provinsi Kalimantan Timur. Keduanya diberi waktu sesuka-sukanya bicara masa lalu yang kelam nan menyenangkan. Selamat menonton boskuk!

Tags

Related Articles

Back to top button
Close