Connect with us

Bontang

Tetangga Ramai Gelar Konser Musik, Bontang Kapan ?

Published

on

BEKESAH.co, Bontang – Setelah vakum dua tahun usai dihantam pagebluk Covid-19, geliat konser musik di sejumlah daerah di Kaltim kembali bergairah. Daerah tetangga Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara hingga Kutai Timur misalnya. Ramai festival musik dengan menggandeng artis papan atas dan dibanjiri ribuan audience.

Namun kondisi itu rupanya tak begitu terlihat di Bontang. Sejak pemerintah memberi kelonggaran pada Mei 2022, hanya festival tahunan seperti expo yang kembali digelar. Konser musik tetap ‘mati suri’. Sebenarnya apa kendala Event Organizer untuk menggelar konser musik di Bontang?

Baca juga:  Asyik Bolos 16 Pelajar SMK di Bontang Diciduk Satpol PP
Baca juga:  Angka Kemiskinan di Bontang Bertambah, Capai 8.400 Jiwa

Dilansir dari Inspirasa.co, Pendiri Bekesah Entertaiment (Grup Bekesah.co) Ahmad Nugraha membenarkan, pasca pandemi Covid-19 ini festival terlebih konser musik memang jarang digelar di Bontang. Sejumlah kendala dihadapi, yang membuat kegiatan sulit terlaksana. Terutama, sulitnya mencari sponsor, kurangnya edukasi soal tiket konser, hingga benturan regulasi di daerah.

Pria yang akrab disapa Nugrah itu menjelaskan, penggiat event sejatinya sangat ingin membuat gebrakan. Hanya saja mereka terkendala anggaran. Mengingat untuk menghadirkan artis kenamaan dibutuhkan dana tak sedikit. Jalan pintas mengatasi persoalan ini dengan mencari dukungan sponsor. Dan untuk konser musik, umumnya didukung produsen rokok. Berat berharap pemerintah.

“Selain perusahaan yang undang artis, brand rokok juga salah satu penyumbang event, mereka bahkan siap bawa artis,” beber Nugrah belum lama ini.

Jadi soal, sebutnya, untuk bekerjasama dengan produsen rokok, penggiat EO terkendala regulasi, tepatnya Peraturan Daerah Kota (Perda) Bontang Nomor 5 tahun 2012 tentang kawasan tanpa asap rokok.

Secara eksplisit regulasi itu mengatur soal kawasan mana saja terbatas dari asap rokok, larangan iklan rokok hingga petunjuk larangan asap rokok.

Sebagai entitas bisnis, produsen rokok tentu melakukan kalkulasi untung rugi. Mereka tak mungkin menjadi sponsor sebuah kegiatan bila tak memberi keuntungan.

Advertisement

Dokumentasi Lembah Permai Festival (Lemper Fest 2019) garapan Bekesah Entertainment.

“Regulasi yang ada bagus saja. Cuma kalau bisa jangan terlalu saklek. Toh Perda rokok juga bisa dibilang mandul dalam penerapan,” ungkapnya.

Founder Bekesah Entertainment, Ahmad Nugraha.

Kedua, kurangnya edukasi publik soal pembelian tiket. Nugrah menyebut publik Kota Taman masih ‘ogah’ membayar untuk karya seni, seperti musik. Dia mensinyalir, ini terjadi lantaran publik terbiasa menikmati konser musik yang disajikan pemerintah atau perusahaan secara gratis. Itu tidak salah, namun publik mesti paham bahwa ada harga yang mesti ditebus buat menikmati karya seni.

“Akhirnya muncullah anekdot kalau ada yang gratis kenapa harus bayar. Padahal seni itu mahal,” ungkap pria 29 tahun ini.

Sementara itu, inisiator festival musik bxt.wave Rury mengatakan, untuk pihaknya, kendala paling berat dihadapi pihaknya ialah soal ketersediaan kawasan yang representatif dan minimnya dukungan. Baik dari otoritas daerah dan sponsor lain.

Menurut Rury, cukup sulit mencari lokasi pas untuk festival atau konser musik di Bontang. Walau pemerintah memiliki beberapa fasilitas publik, namun sangat sulit dan berbelit izin jika ingin dimanfaatkan.

“Bagi kami, mengurus ini itu ke pihak terkait sangat membuang waktu. Kami di Bontang ini seperti ‘dituntut’ mandiri,” sebutnya ketika dihubungi inspirasa.co belum lama ini.

Kendala lain, seperti halnya Nugrah bersama Bekesah Entertaiment: susah menggaet sponsor. Bagi Rury, penggiat EO di Bontang seperti diminta bekerja secara mandiri. Berat berharap pemerintah. Maka untuk gelar kegiatan, mereka mesti cari sponsor lain, baik personal atau dari perusahaan.

Kendati tak secara menyebut secara eksplisit, Rury mengisyaratkan festival dan konser musik kerap didukung produsen rokok. Namun mereka susah masuk ke Bontang karena terkendala regulasi.

“Regulasinya tidak perlu direvisi. Kami sponsori sendiri festival ini,” sebut pria 28 tahun ini.

Rury bersama 4 kawannya menginisiasi festival musik yang disebut wavebtx. Festival musik ini bakal digelar di Lembah Permai Adventure Park pada 27 Agustus 2022 mendatang bakal menghadirkan Is Pusakata. Atau sebelumnya dikenal sebagai vokalis band beraliran indie/alternatif, Payung Teduh.

Advertisement

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh wave.bxt (@wavebxt)

Menggelar festival bak pertaruhan bagi Rury dan kawan-kawan. Pertama, festival didanai pakai kocek pribadi. Anggaran ratusan juta mereka gelontorkan untuk memboyong Is ke Bontang.

Kedua, festival ini berbayar. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri mengingat publik tak terbiasa dengan konser berbayar. Range tiket pun cukup berani untuk ukuran Bontang. Panitia mematok tiket pre-sale reguler magenta Rp 102 ribu; reguler green Rp 152 ribu; dan festival Rp 202 ribu.

“Kami lakukan ini dengan perhitungan dan penuh dengan risiko. Tujuan kami juga mengedukasi warga Bontang. Ketika ingin pertunjukan berbeda harus ada yang di korbankan yaitu membeli tiket,” tandasnya.

Penulis : Fitri Wahyuningsih

Advertisement
Continue Reading
Advertisement

2022 © Bekesah.co