Connect with us

Bontang

Tidak Semua Bisa Selesai Lewat Kopi Take Away

Published

on

BEKESAH.co – Sejak Minggu (5/4/2020) malam kemarin, Kota Bontang terlihat sedikit lebih hidup. Lalu lalang kendaran di jalan kota dan kedai kopi mulai melayani pengunjung. Semua terjadi sehari setelah Bontang dinyatakan bebas kasus positif corona, untuk sementara.

Sebagai salahsatu sektor yang paling disoroti publik dan aparat, tidak sedikit pelaku usaha kafe yang terpaksa harus membuka gerainya untuk memenuhi kebutuhan harian.

Muhammad Fahmy misalnya, mengatakan telah mengikui anjuran pemerintah untuk tutup warung selama dua minggu terakhir. Tidak adanya toleransi maupun kompensasi dari pemerintah dinilai semakin menyulitkannya.

“Kalau terus seperti ini kami mau makan apa? Memang ada insentif yang diberikan, tapi mungkin kami tidak termasuk dalam daftar itu,” kata pemilik kedai yang berlokasi di Jalan Pattimura Kelurahan Bontang Baru itu, Senin (6/4/2020).

Fahmy menyatakan mendukung edaran Wali Kota Bontang terkait upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Begitu pula anjuran pemerintah agar pelaku usaha kuliner atau gerai kopi untuk tidak melayani di tempat atau hanya menerima pembelian take away.

Namun, ia menjelaskan setiap kedai kopi memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada sejumlah kedai kopi yang bisa di-branding dengan sistem take away. Namun sebagian lainnya, sengaja mengemas kedainya sebagai tempat nongkrong dan bersantai di waktu luang.

Fahmy menyatakan kedainya sebagai salahsatu kedai kopi yang tidak bisa menerapkan pembelian take away untuk bertahan di tengah persaingan.

“Kami tidak bisa nerapin sistem takevaway. Karna pelanggan bakal pilih tempat lain,” ungkapnya.

Advertisement

Fahmi Hio, pelaku usaha gerai kopi lainnya di Jalan KS Tubun juga bersuara. Ia menilai kebijakan untuk membatasi sektor usaha yang dilakoninya ini tidak bisa terus menerus diterapkan. Kondisi ekonomi masyarakat yang semakin hari mengalami penurunan, memaksa masyarakat harus melanggar aturan yang ada.

“Banyak masyarakat lebih takut keluarga di rumah enggak makan, ketimbang takut dengan virusnya. Jangan sampai masyarakat nantinya menyepelekan virus ini hanya karena desakan ekonomi,” singgung Hio.

Mendesak Proteksi Daerah

Ketimbang mempelototi upaya bertahan hidup warganya, Fahmi meminta pemerintah lebih fokus pada kebijakan membentengi Kota Bontang dari potensi penularan dari luar daerah. Penjagaan ketat di seluruh akses pintu masuk untuk meminimalisir penyebaran.

“Kalau masyarakat yang masuk ke Bontang langsung wajib isolasi untuk antisipasi penyebaran. Kan udah jelas yang potensi menyebarkan itu orang dari luar kota. Kalau itu diberlakukan mungkin orang banyak yang enggak mau masuk ke Bontang,” katanya.

Baik Fahmy dan Hio menganggap jika hal itu diberlakukan, bukan tidak mungkin aktivitas mulai berjalan normal.

“Supaya aktivitas di dalam kembali normal, roda ekonomi jalan lagi dan masyarakat tidak tercekik,” singkat Hio. (*)

Penulis: Ismail Usman

Advertisement

2022 © Bekesah.co