Connect with us

Bontang

Sejarah Kampung Malahing, dulu Kumuh Kini Bikin Harum Nama Bontang

Published

on

BEKESAH.co, Bontang – Tepian pesisir Bontang terdapat satu kampung apung nelayan yang pernah menjadi kampung kumuh. Namun kini kampung kumuh itu telah berganti wajah menjadi destinasi andalan di kota Bontang.

Kampung apung Malahing berdiri tahun 1999. Berawal dari seorang nelayan Nasir Lakada yang berlayar dari Sulawesi Selatan ke perairan Bontang. Karena perjalanan yang jauh, Nasir Lakada kemudian mendirikan pondok untuk beristirahat. Bertahun-tahun kemudian banyak nelayan yang ikut Nasir untuk turut mendirikan rumah apung. Berawal dari satu pondok kini luas kampung apung kini berkembang hingga 2 hektare.

Kampung ini dihuni 56 kepala keluarga dengan total 227 jiwa. Nasir pun bercerita awal mula membangun pondok menggunakan bahan baku dari sekitar.

“Kami cari tempat yang betul-betul tidak terhalang seumpamanya surut air. Kalau cuaca buruk di tengah laut pas pulang, langsung di pondok. Lama kelamaan kami ambil kayu bakau untuk jadi tiang. Setelah itu kami cari di mana mau bikin pondok yang pas,” ujarnya.

Advertisement

Melalui usaha Nasir dan warga lain kini Kampung Malahing masuk 75 desa wisata terbaik 2023 dalam ajang Anugerah Desa Wisata (ADWI) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Lika-liku upaya bersih-bersih dilakukan warga Kampung Malahing akhirnya membuahkan hasil.

“Dulu itu kan kita tahu ada Kampung Gusung, Tihi-Tihi, dan Selangan. Sempat dibilang kampung pesisir terkumuh itu adalah Malahing,” kenangnya.

Berawal dari situ Nasir mulai berpikir agar bisa merubah perwajahan kampung yang ia rintis. Hal yang pertama ia lakukan dengan warga lain adalah gotong-royong bersih-bersih. Limbah rumah tangga yang tak lagi dipakai ia kumpulkan lalu dibuang ke daratan.

Advertisement

Berkat kegigihan Nasir dan warga lain, PT Pupuk Kaltim mulai melirik mereka. Warga mendapat pembinaan dan sejumlah fasilitas publik kawasan hijau, toilet komunal, hingga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Baca Juga  Mendadak Pesepeda Meninggal saat Gowes dari Tanjung Laut Menuju Berbas

Pelan-pelan kolaborasi itu pun terbangun. Malahing dijadikan ekowisata. Selain menawarkan keindahan dengan konsep wisata laut, pengunjung juga bisa menikmati beragam fasilitas seperti snorkeling, belajar membatik dan budidaya rumput laut, hingga melihat dari dekat proses pembuatan berbagai produk olahan hasil inovasi ibu rumah tangga Malahing.

Sebagai desa wisata, ekonomi warga bertumpu pada hasil laut, utamanya rumput laut dan teripang. Rumput laut awalnya menjadi andalan ekonomi warga namun karena faktor cuaca yang sering berubah kerap membuat mereka gagal panen.

Tak berhenti di situ, mereka akhirnya mencari teripang sebagai mata pencaharian. Tak disangka, pasar teripang lebih diminati dibandingkan rumput laut.

Advertisement

“Dulu kan tahun 2013 sampai 2015 memang kebanyakan rumput laut. Itu jarang  yang cari teripang dan ikan. Tapi karena cuaca jadi gagal. Akhirnya banyak yang beralih. Ada yang cari ikan dan lebih banyak cari teripang,” katanya.

Nasir menuturkan, dalam sehari warga bisa mengumpulkan teripang hingga 100kg. Harga teripang bervariasi. Tergantung jenisnya. “Ada yang Rp 100 ribu ada juga yang Rp 1 juta sekilo,” bebernya.

Kampung apung Malahing adalah contoh keberhasilan nelayan mengubah persona kampung yang identik dengan kekumuhan menjadi kampung yang bersih.

Dengan semangat warga yang tak kenal lelah mereka tak hanya mampu meningkatkan kehidupan ekonomi tetapi menjadikan kampung mereka sebagai kampung wisata.

Advertisement

Penulis : Redaksi

Dapatkan update informasi Bekesah.co seputar Bontang dan Kalimantan Timur dengan bergabung di Whatsap grup ini. Cukup klik link di bawah ini

https://chat.whatsapp.com/L4DcfLR9YvdDkNKiF2cCPG

Advertisement