Connect with us

Bontang

Sarabba Berbas Ujung, Romansa Cinta Ramah Kantong

Published

on

BEKESAH.co – Wisata malam di Berbas Ujung memang punya daya tarik. Ya kan ? eiits, jangan salah paham dulu pok. Bukan yang itu. Hiya hiya hiya. Ini soal tempat yang cukup populer di kota ini.

Saban hari saya diajak sama keluarga. Padahal lagi asyik-asyiknya main Free Fire. Kesal bukan kepalang. Tapi ini ajakan sekaligus perintah. Titik. Maunya bapak. Yasudah kami berangkat sekeluarga. Dari Lok Tuan menuju Berbas dengan kecepatan ala Valentino Rossi, makan waktu sekitar 30 menit. Not bad-lah yah.

Sampai di sana, saya cukup kaget. Muda-mudi berhamburan. ABG tanggung kayak saya. Agak malas sebenarnya. Terlalu ramai. Tapi lihat bapak seriang itu. Batin sedikit meronta pengin balik ke rumah lanjut main game. Kakak saya juga meyakinkan,” Di sini mantap lho. Sederhana tapi bisa kumpul berkualitas,” katanya.

Kami duduk di meja tengah-tengah. Pas depan layar monitor karaoke. Bapak pesan Singkong Goreng, saya Sanggara Peppe (Pisang yang ditumbuk, Red) orang Bugis wkwk. Nggak lupa minumnya Sarabba tiga gelas.

“Kalau kamu nggak kuajak ke sini, pasti main terus kamu. Mending kita di sini sambil karaoke kan,” seloroh bapak.

Saya tidak mengiyakan. Cukup senyum-senyum kecut. Sambil scrol ponsel pintar yang saya pegang. Dalam hati saya bergumam, ini bapak sama kakak kok kompak betul. Pesanan pun tiba. Saya ambil Sanggara Peppe, dicocol sama sambal tomat. Mata saya tertutup tanpa disengaja. Ini baru oke. Kenikmatan yang tiada duanya. Sumpah ini bukan endorse. Kalau nggak percaya coba deh.

Seketika saya jadi sedikit nyaman di sini. Gorengan dan Sarraba memang perpaduan yang pas. Meskipun nyamuk nggak berhenti memborbardir pertahanan tubuhku. Kalau tahu begini, sejak awal bawa lotion anti nyamuk. Tapi nggak jadi masalah. Toh singkong goreng dan sanggara peppe sudah habis dua piring.

Sambil bersenda gurau ditemani makanan ringan khas berbas ujung. Lantunan irama dangdut dan tembang-tembang lawas menemani obrolan kami. Badan saya otomatis ikut bergoyang. Apalagi bapak. Aduhai seperti kembali muda. Kaka juga diam-diam suka dangdut.

Advertisement

Nggak berapa lama kemudian, bapak juga mau sumbang suara. Merasa tertantang. Apalagi tiap hari nonton salah satu televisi swasta yang acara dangdut berjam-jam itu. “Saya mau nyanyi yah. Tiga lagu cukup kah ?,” tanya bapak.

Saya jawab nggak usah, bikin malu. Tapi kakak membolehkan. Bapak akhirnya mendatangi operator. Lantas kembali ke meja. Katanya untuk karaoke cukup bayar Rp 10 ribu untuk tiga lagu. Lumayan ramah kantong.

Memang di wisata kuliner Berbas Ujung ini kurang mantap kalau nggak karaokean. Sumpah. Seninya di sini. Sambil nyanyi. Soal suara sumbang atau tidak itu bukan masalah. Yang penting berani dulu. Lumayan buat uji mental. Apalagi sama orang-orang yang nggak saling kenal satu sama lain di setiap mejanya. Memang lumayan bikin dag dig dug.

Kalau sudah coba, pasti ketagihan. Seperti bapak saya ini. Tiga lagu seperti kurang cukup. Buat Kamu yang memang mau ikut Liga Dangdut. Belajar dulu uji mentalmu di di Berbas Ujung. Kalau sudah berani, berarti sudah siap naik kelas. Oh, iya saya lupa ngabarin. Kalau sepiring pisang goreng dan sanggar peppe cuman dihargai Rp 10 ribu. Total yang kami keluarkan cuman Rp 50 ribu untuk semua. Wisata keluarga yang ramah dan mengasyikkan.

2022 © Bekesah.co