Connect with us

Politik

Gus Imin Komentari IKN, Eko: Teman-Teman di Kaltim Tak Perlu Tersinggung

Published

on

Direktur Eksekutif Brand Politika Eko Satiya Hushada. Foto : Ist

BEKESAH.co, Jakarta  – Direktur Eksekutif Brand Politika Eko Satiya Hushada menilai, tidak ada yang salah dengan komentar calon Wakil Presiden Muhaimin Iskandar soal Ibukota Nusantara (IKN) yang masih hutan saat ini. Untuk itu, Eko mengajak warga Kaltim untuk tidak mudah tersulut, karena hanya akan dimanfaatkan pihak tertentu sebagai komoditas politik.

“Saya melihat, tidak ada kalimat yang patut membuat kita, warga Kaltim, tersinggung,” kata Eko, yang merupakan putra asal Kaltim, kepada wartawan, Jumat (1/12/2023).

Mengutip dari sejumlah pemberitaan media, menurut Eko, Gus Imin mengaku lebih memilih tinggal di Jakarta daripada pindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN), Kaltim yang menurutnya hingga kini belum layak untuk ditinggali.

Melihat kalimat tersebut, menurut Eko, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa, Gus Imin tidak bersedia tinggal di IKN untuk saat ini, karena belum layak ditinggali.

“Sekarang kan kawasannya masih dalam pengerjaan. Sebagian besar masih hutan, belum land clearing. Pembangunan sejumlah fasilitas belum selesai. Memang belum layak untuk ditinggali. Konteksnya ‘saat ini’, bukan akan datang ketika IKN sudah layak huni,” jelas mantan wartawan Kaltim Post itu.

Advertisement

Seperti diberitakan, dalam acara acara Indonesia Millennial and Gen-Z Summit, di Jakarta, Minggu (26/11), secara spontan, moderator acara Gus Imin diminta memilih antara pindah IKN atau tetap Jakarta. Gus Imin pun memilih Jakarta.

Usai acara, wartawan kemudian bertanya lebih lanjut, apakah jawaban Gus Imin memilih Jakarta itu menandakan Koalisi Perubahan tidak akan melanjutkan IKN jika memenangkan Pilpres 2024.

Gus Imin berkata, jawabannya itu adalah pilihan pribadi. Ia menyebut IKN saat ini belum layak ditinggali. “Itu kan pilihan aja. Lagi enak di Jakarta, tiba-tiba disuruh ke hutan, entar dulu. Itu pilihan pribadi, referensi tinggal pribadi. Kalau sekarang kan nggak layak, belum layak di sana, per hari ini,” kata Gus Imin.

Baca Juga  Pemilihan Ketua Umum PAN Pakai Acara Lempar Kursi

Meski demikian, ia mengatakan belum ada sikap di Koalisi Perubahan soal keberlanjutan IKN jika menang Pilpres. Gus Imin mengatakan saat ini Koalisi Perubahan masih diskusi soal IKN.

“Kita lagi diskusi terus. Saya termasuk ingin mempertahankan IKN supaya jalan terus, tapi di Koalisi Perubahan akan diskusi terus,” katanya.

Advertisement

Masih menurut Eko, pada kalimat penutup Gus Imin disebutkan, bahwa ia termasuk yang ingin mempertahankan IKN agar berjalan terus. “Lantas, dimana kalimat atau komitmen Gus Imin yang salah?” tanya Eko.

Sebagai putra Kaltim, Eko menilai, tidak ada yang perlu diributkan terhadap ucapan Gus Imin tersebut. Eko mengaku punya harapan yang sama agar Kaltim jauh lebih maju, sebagai dampak dari IKN. Namun yang terpenting menurut dia, IKN harus berjalan dengan menjunjung tinggi asas keadilan dan kesejahteraan.

Jangan sampai hanya karena untuk mewujudkan IKN, Pemerintah Pusat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dana bagi pembangunan sarana dan prasarana, dengan mengorbankan hak-hak rakyat, khususnya rakyat Kaltim.

APBN menurut Eko, harus tetap digunakan bagi kesejahteraan rakyat. Jangan sampai memaksa APBN ditumpahkan untuk proyek IKN, sementara rakyatnya miskin bahkan sampai tidak bisa makan.

“Kada usah (nggak usah) jauh-jauh bicara keadilan. Balikpapan yang disebut kota minyak, tapi warganya masih harus mengantri untuk mendapatkan Pertalite di pom bensin. Begitu juga dengan Samarinda. Ulun umpat merasakan (saya ikut merasakannya) beberapa hari lalu, harus ngantri di POM bensin Juanda, Samarinda. Kalau APBN ‘kuat’, nggak akan terjadi antrian itu. Adil kah ini?” ujar Eko. (sa)

Advertisement

Dapatkan update informasi Bekesah.co seputar Bontang dan Kalimantan Timur dengan bergabung di Whatsap grup ini. Cukup klik link di bawah ini

https://chat.whatsapp.com/L4DcfLR9YvdDkNKiF2cCPG

Baca Juga  Real Count KPU, Prabowo-Gibran Unggul Telak di Bontang