Connect with us

Politik

Gagasan Partai Islam Tunggal Din dan Ragam Tanggapan Partai

Published

on

BEKESAH.co – Sejumlah partai bernafas Islam menanggapi beragam pidato Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Din Syamsuddin tentang perlunya membentuk satu partai politik Islam tunggal yang akan menjadi saluran aspirasi umat Islam di Indonesia.

Din menyampaikannya lewat pidato berjudul ‘Agenda Strategis Umat Islam Membangun Indonesia Maju, Adil, Makmur, Berdaulat, dan Bermartabat’, dalam Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2/2020).

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jazilul Fawaid mengatakan, penyatuan parpol Islam bukanlah cara mutlak menyampaikan aspirasi umat. Sebab, saat ini setiap parpol berbasis Islam sudah menunjukkan niat baik dalam menyalurkan aspirasi mereka.

“Partai-partai Islam tetap bisa bekerja sama walau tanpa bergabung menjadi satu partai yang tunggal,” ujar Jazilul.

Menurutnya, partai berbasis Islam harus lebih menunjukkan visi dan misinya, khususnya yang berhubungan dengan umat. Apalagi, dalam empat tahun ke depan akan dihadapkan dengan Pemilihan Umum (Pemilu). “Menurut saya, menyamakan visi itu yang paling penting hari ini dari partai-partai Islam ini menghadapi (Pemilu) 2024,” ujar Wakil Ketua MPR itu.

Wakil Ketua Fraksi PAN di DPR Saleh Partaonan Daulay juga menilai hal tersebut sulit diwujudkan. “Pada tataran lebih detail, partai-partai yang ada memiliki perbedaan yang kelihatannya tidak mudah disamakan,” ujar Saleh. Namun, bukan berarti partai Islam di Indonesia berjalan sendiri dalam berpolitik.

Banyaknya partai Islam di Indonesia juga dinilainya bukan sebagai hambatan. Pasalnya, setiap partai memiliki konstituennya sendiri dalam berpolitik.

“Biarkan ada banyak partai, tapi pada penentuan program perjuangan umat, partai-partai itu harus bersatu,” ujar Saleh.

Advertisement

Sekretaris Fraksi PPP di DPR Achmad Baidowi mengatakan, PPP menghargai usulan tersebut. Namun, penyatuan adalah sesuatu yang sulit terealisasi. Khususnya, saat memasuki masa reformasi, di mana kekuatan politik Islam sudah menyebar sebagai konsekuensi dibukanya keran demokrasi. “Perbedaan itu rahmat, tugas kita adalah bagaimana meramu keragaman tersebut untuk menjadi kekuatan yang dahsyat,” ujar Baidowi, kemarin.

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman juga menghargai usulan adanya partai Islam tunggal. Menurutnya, partai Islam di Indonesia sudah bersatu dan memiliki visi yang sama. Namun, memang tak dilebur dalam satu wadah yang tunggal.

Sulit masuk kekuasaan

Sohibul mengatakan, yang harus dipikirkan saat ini adalah kendala yang membuat aspirasi dan umat Islam sulit masuk ke dalam kekuasaan. Itu disebutnya sebagai kendal struktural. “Tercipta karena sistem politik di negeri kita yang menyulitkan karena ada semacam entry barrier bagi umat Islam untuk masuk ke dalam kekuasaan,” ujar Sohibul.

Salahsatu penyebabnya, kata dia, adalah biaya politik yang tinggi. Umat Islam yang memiliki integritas dan gagasan sulit berada di lingkar kekuasaan karena hal tersebut. “Kalau kondisinya seperti ini terus, umat ini akan terkena barrier terus. Nah Inilah yang terus kami perjuangkan ongkos politik menjadi lebih murah,” ujar Sohibul.

Kendala kedua, yakni masyarakat seakan memiliki rasa bahwa negara belum hadir dalam kehidupan. Banyak orang yang dinilainya masih cuek terhadap politik. Padahal, politik menjadi salah satu jalan menyampaikan aspirasi umat Islam. “Harus ada upaya dari kita untuk melakukan penyadaran terhadap politik. Bagaimana menyiapkan tokoh-tokoh yang akan diterjunkan ke dalam kancah perpolitikan di negeri ini,” ujar Sohibul.

Namun, Sekretaris Jenderal Partai Bulan Bintang (PBB) Afriansyah Ferry Noer mengatakan, partainya mendukung usulan partai tunggal. Ia pun mendorong Din merealisasikan upaya tersebut. Sebab, upaya tersebut pernah dilakukan pada 2009 dan 2014, tapi para partai Islam tak mau.

“PBB mengajak Pak Din untuk mengimbau agar tokoh Islam dan umat Islam bergabung ke PBB dipimpin langusung oleh Pak Din,” ujar Afriansyah, kemarin.

Menurut dia, memang ada sejumlah aspirasi umat Islam yang tak tersampaikan. Ditambah adanya konflik internal partai Islam yang terkadang membuat aspirasi dipinggirkan dahulu. “Lebih baik MUI dan KUII segera saja menggagas pertemuan tokoh di parpol, untuk segera membuat koalisi yang baik di parlemen,” ujar Afriansyah.

Advertisement

Din Syamsuddin saat menjadi narasumber di sidang pleno KUII, Kamis (27/2), mengusulkan partai Islam tunggal tersebut. Gagasan itu merupakan bagian usulan agenda strategis bidang politik yang paling mendapatkan respons dari para peserta lintas ormas Islam yang hadir dalam sidang KUII.

Din mengatakan, partai politik Islam ini diperlukan dalam proses pengambilan kebijakan strategis kenegaraan baik di lembaga legislatif maupun eksekutif.

“Politik merupakan bidang yang paling krusial bagi umat Islam, padahal politik menentukan keberadaan suatu kelompok dalam kehidupan nasional,” kata Din.

Din menyampaikan, politik menjadi sarana efektif bagi suatu kelompok dalam perlombaannya dengan kelompok-kelompok lain untuk merebut posisi strategis di arena nasional. Masalah utama yang dihadapi umat Islam dalam hal ini, kata Din, adanya kesenjangan antara angka demografis umat Islam dan perolehan partai-partai Islam dalam politik elektoral. (*)

Sumber: Republika

Continue Reading
Advertisement

2022 © Bekesah.co