Connect with us

Bontang

Dulu Diejek Jual Keladi, Penjual Tanaman di Bontang Ini Kini Sanggup Keluarkan Rp 35 Juta untuk Gaji Karyawan

Published

on

BEKESAH.co- Bercocok tanam saat ini menjadi salah satu pilihan bagi sebagian besar masyarakat Kota Bontang dalam mengisi waktu luang. Apalagi semenjak pandemi covid, hal ini semakin banyak diminati.

Tentu saja, hal ini sangat dirasakan Hadi Saputro, pemilik CV Nursery Taman Asri. Animo masyarakat yang datang ke Nursery Taman Asri untuk bercocok tanam semakin meningkat hingga 30 persen dari biasanya semenjak pandemi Covid.

“Semenjak pandemi ini meningkat sebanyak 30 persen dari biasanya. Banyak yang memanfaatkan waktu bosannya dengan bercocok tanam, karena pandemi,” ungkapnya.

Pun tak sedikit jenis tanaman yang menjadi unggulan dikalangan masyarakat untuk turut menghiasi halaman rumah mereka. Mulai dari bunga hingga tanaman daun.

Advertisement

“Dari dulu sampe sekarang memang bougenville yang banyak diminati. Tapi semenjak pandemi, yang diminati sekarang rata-rata tanaman teduh, artinya tanaman daun-daunan, seperti srigading, pilo-pilo, keladi, monstera, dan lain lain,” jelas Hadi.

Harga yang ditawarkan pun beragam. Tergantung jenis dan juga kelas tanaman. Ada juga yang beli satuan, ada juga yang membeli dalam jumlah banyak(borongan).

“Harganya tanaman range nya dari 10 ribu sampai 500 ribu-an per polybag atau per pot. Kalo udah harga di atas itu berarti proyekan atau borongan sesuai spek tanaman yg diinginkan,” paparnya.

Dari berjualan bunga dan tanaman, tak sedikit keuntungan yang didapatkan Hadi. Dengan ketekunannya dalam mengurus dan mempromosikan tanaman-tanamannya juga turut menyenangkan para karyawannya, Hadi pun sanggup untuk menggaji 6 orang karyawannya dengan total hingga 35 juta rupiah per bulannya.

Advertisement

“Biaya tetap itu biaya gaji, ada juga variabel. Kami punya pekerja 6 orang ditambah saya dan ayah saya. Untuk pengganjian sekitar 35 juta per bulan ditambah biaya variabel seperti menyediakan snack, kopi, bakso di tiap sore, bisa menghabiskan100rb per hari. Untuk biaya listrik sekitar 1 juta per bulan. Dalam sebulan selain gaji semua pekerja kami beri paket sembako sebesar 250 ribu. Kalo mereka (karyawan) senang, kami juga usahanya lancar,” jelas Hadi.

Baca Juga  Pemkot Bontang Buka Acara Bimtek Calon Penerima Bantuan Usaha Ekonomi Produktif WRSE, Ada 50 Penerima Manfaat

Media promosi dengan hanya dari mulut ke mulut dan juga video vlog membuatnya memiliki pelanggan hingga Berau. Pun lewat grup facebook BBB (Bursa Barang Bontang).

“Ada yang dari Sangatta sama Berau. Yang dari Sangatta tuh banyak. Promosi saya selama ini lewat BBB dan dari mulut ke mulut saja. Dan saya juga sering buat vlog yang berisi informasi tentang saya, kayak email, nomor hp,” tutur Hadi.

Sejak 2014 Hadi telah menekuni bidang bercocok tanam ini. Tak mudah baginya untuk memulai. Hadi sempat merasakan ejekan karena dianggap menjual tanaman yang sama sekali tidak berharga. Namun hal itu dapat di tepisnya, hingga saat ini ia mampu menjual berbagai macam tanaman.

Advertisement

“Dulu saya jual tanaman keladi, sempat diejek orang desa karena tanaman ini adalah makanan ikan gurame dan babi, tapi saat itu ada pemilik cafe yang membeli tanaman keladi saya untuk menjadi dekorasi, diposting di Instagram banyak yang tanya beli dimana, dan akhirnya rame yang mencari saat itu,” kata Hadi

Sebagai alumni manajemen ekonomi, Hadi melihat bahwa tanaman keladi memang tak bernilai jika ditemukan di hutan. Namun bisa menjadi tanaman yang sangat bernilai jika di jual ke kota.

“Kalo di hutan memang gak ada nilainya, tapi ketika masuk kota akan menjadi barang ekonomis,” ujarnya.

Tak mesti murah atau mahal dalam membeli tanaman, yang penting bagaimana bisa merawat serta menatanya dengan baik. Itupun hal yang dilakukan Hadi untuk lebih menarik minat pelanggannya agar berkunjung dan membeli tanaman miliknya.

Advertisement

“Saya tata dan juga saya dekorasi sengaja seperti taman, tapi dijual. Banyak yang datang di hari sabtu minggu main main disini, lalu pada selfie, trus di posting. Ini hanya bagaimana kita mengemas sehingga orang-orang selalu penasaran dan akhirnya datang kesini,” ungkap Hadi.

Baca Juga  PNS di Zona Merah WFH Lagi

Hadi pun memiliki trik lain dalam menarik minat pelanggannya agar pelanggan nyaman juga bisa dapat terdukasi dalam hal bercocok tanam.

“Setiap pelanggan yang datang pasti saya beri edukasi terkait tanaman, bagaimana merawat dan lain sebagainya. Juga saya pake konsep palugada, apa yang lu cari, gua ada. Jadi apapun yang di minta pelanggan ya kita usahakan ada, makanya hampir semua jenis tanaman ada disini, karena permintaan pelanggan juga untuk mengadakan tanaman tersebut,” pungkasnya.(*)

Penulis: Annisa Hashifah

Advertisement