Connect with us

Headline

Cerita di Balik Lahirnya Bubur Ayam Pertama di Bontang, Sejak Tahun 1986

Published

on

Warang Bubur Ayam Bontang Wak Wak Haji U'ung boleh jadi percontohan bagaimana resep khas keluarga masih laik bersaing dengan varian kuliner baru pilihan warga Kota Taman (julukan Bontang).

BEKESAH.co, Bontang – 38 tahun bukan waktu yang sebentar untuk sebuah warung bisa bertahan. Diperlukan kegigihan dan keuletan apalagi menjaga citarasa yang terus konsisten di tengah gempuran pilihan rumah makan ataupun cafe moderen saat ini.

Warang Bubur Ayam Bontang Wak Wak Haji U’ung boleh jadi percontohan bagaimana resep khas keluarga masih laik bersaing dengan varian kuliner baru pilihan warga Kota Taman (julukan Bontang).

Bubur Ayam ini telah berdiri sejak 1986 yang artinya usia Warung Bubur Ayam Bontang Wak Haji U’ung hampir empat dekade.

Baca Juga  Naik Haji dari Jualan Nasi Kuning Lodoyo, Sehari Habiskan 35 Kg Beras

Saat ini, usaha yang terletak di Jalan Ahmad Yani ini sudah dikelola oleh generasi kedua yakni anak kandung Haji U’ung, Kusnawati.

Advertisement

Sebelum merintis usaha Bubur Ayam, Haji U’ung sempat bekerja sebagai pemasang kabel listrik. Sementara istrinya membuka usaha salon.

“Dulu belum ada PLN seperti sekarang, ayah saya yang pasang kabel listrik dari rumah-kerumah dan ibu saya sempat membuka salon,” kenangnya saat  ditemui Bekesah, Sabtu (8/6/2024).

Kusnawati bercerita usaha warisan kedua orangtuanya itu serba kebetulan. Saban hari, ada pengusaha Cina yang sangat menyukai bubur ayam.

“Toko Buku Aziz yang di depan kan dulu itu bioskop. Nah yang punya itu orang Cina kan, dia suka makan Bubur Ayam cuman di Bontang ini belum ada yang berjualan bubur. Terus Koko Cina itu ngomong keibu saya coba bikin Bubur Ayam,” katanya.

Advertisement

Usai mencoba, Koko Cina itu berseloroh agar sang ibu membuka usaha bubur. Menurutnya, olahan tangan sang ibu, laik untuk dijual.

“Wah, enak juga Bubur Ayam ini bu, kenapa ibu tidak coba menjual makanan ini saja,” ucapnya mengingat cerita ibunya saban hari.

Dari situ awal mula terbentuknya Warung Bubur Ayam Bontang Haji U’ung.

Kusnawati mengatakan jika bubur ayam milik ayahnya itu menjadi ciri khas bubur di Kota Bontang, lantaran rasa dan pengolahannya yang berbeda dengan bubur ayam yang terkenal lainnya.

Advertisement

”Kalau bubur ayam Bontang itu berkuah, kalau bubur ayam Bandung misalnya itu tidak punya kuah, ” terangnya.

Menu yang dijual di warung Wak Haji U’ung pun kini beragam. Ada sop buntut, sop tulang iga, dan soto banjar. Pelanggan nya berbagai kalangan, dari semua usia. Baik pejabat maupun karyawan perusahaan.

Bubur Ayam Wak Haji U’ung buka setiap hari mulai dari pukul 08.00 pagi hingga jam tiga sore, kemudian kembali buka pukul 19.00 sampai pukul 21.00 WITA.

Kusna menuturkan, untuk menikmati seporsi bubur ayam khas Bontang ini cukup cukup membayar Rp22 ribu. Harganya sudah mengalami kenaikan dari 8 ribu sejak pertama kali didirikan. Naiknya harga dipengaruhi dari kenaikan bahan pokok yang menjadi bahan dasar bubur ayam.

Advertisement

”kami mengikuti harga di pasaran, kalau bahan dasar naik kita naikkan juga, awalnya itu Rp8 ribu, naik Rp16 ribu, terus Rp18 ribu, sekarang Rp22 ribu, ” tandasnya.

Sudah 12 tahun lamanya Kusnawati meneruskan usaha yang dirintis oleh kedua orang tuanya. iya berharap bubur ayam khas Bontang terus bisa dinikmati oleh semua orang, terus bertahan dan dilanjutkan oleh generasinya, mempertahankan citarasa yang ada. (*)

Penulis : Sadly Jaya M

Advertisement