Connect with us

Bontang

Bontang jadi Daerah Pertama di Kalimantan Tangkal Nyamuk dengan Metode Wolbachia

Published

on

BEKESAH.co, Bontang – Kota Bontang terpilih menjadi pilot project daerah di Kalimantan untuk metode baru penanganan nyamuk DBD dengan cara Wolbachia.

Metode ini dikembangkan dengan memasukkan bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti. Bakteri ini dipastikan dapat menghentikan kemampuan nyamuk tersebut dalam menularkan penyakit dengue dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Sekretaris Daerah (Sekda) Aji Erlinawati mengatakan, saat ini pemerintah tengah fokus melakukan sosialisasi ke kecamatan dan kelurahan di Bontang. Sosialisasi ini ditarget rampung pada Juli mendatang.

“Mudah-mudahan setelah implementasi penanganan kasus dengan berwolbcahia bisa langsung dirasakan masyrakat,” ungkapnya.

Dia mengatakan, sesuai jadwal pada Juli nanti akan digelar pelatihan kader Wolbcahia. Nantinya, para warga yang sudah mendapat pelatihan akan diberikan tugas untuk mengedukasi dan membimbing masyarakat cara menangani nyamuk dengan metode terbaru ini.

Advertisement

“Kota Botang siap menyukseskan proyel penanganan nyamuk Ber Wolbachia,” ujarnya saat Koordinasi Kesiapan Implementasi Pengendalian DBD dengan Nyamuk Ber-Wolbachia, Rabu (14/6/2023) di Pendopos Rumah Jabatan Wali Kota.

Sekda Aji bersyukur Bontang terpilih menjadi pilpt project penagananan DBD dengan metode nyamuk berbakteri wolbachia. Ia berharap kasus DBD di Kota Taman, bisa menurun.

“Alhamdulillah, Kota Bontang dijadikan pilot project yang pertama kali di Indonesia. Di Kota Bontang sekarang ada 179-an kasus DBD dari Januari sampai Mei. Sehingga diharapkan dengan pilot project ini kasusnya bisa turun,” paparnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Penanganan DBD dengan Nyamuk Ber-Wolbachia, drg Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, Bontang sebagai daerah endemik nyamuk DBD. Sampai saat ini pun belum ada penanganan khusus yang bisa membasmi nyamuk.

“Kita sudah rutin melakukan fogging, dan juga prokes kita perketat dengan pengendalian yang dilakukan kader. Tapi tidak ada perubahan yang signifikan,” ungkapanya.

Advertisement

Drg Toetoek menambahkan, pemberian fogging yang rutin dilakukan malah berdampak pada dua aspek. Sisi positifnya memang bisa membunuh nyamuk secara langsung. Namun, dalam waktu dua hari saja larva nyamuk kemudian dengan mudahnya bertransformasi menjadi nyamuk siap menyebarkan virus dengue.

Baca Juga  Bulan Depan PNS dan PPPK Bahagia, Gaji Naik, Ini Besarannya

“Nah dampak negatifnya itu pada kesehatan dan lingkungan,” ungkapnya.

Dia menambahkan dengan metode ini nyamuk dipastikan tidak bisa menularkan virus dengue ke masyarakat.

Drg Toetoek menyebut, pada tahun 2021-2022 Bontang menempati peringkat satu di Indonesia dengan jumlah tingkat kasus DBD tertinggi. Alasan ini yang kemudian membuat Kemenkes RI menunjuk Bontang sebagai daerah pilot project di Kalimantan.

“Semoga kita dapat bergandengan tangan menyelesaikan kasus penyebaran ini,” ujarnya.

Advertisement

Sementara, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, tingkat akurasi keberhasilan metode ini mencapai 80 persen.

Nantinya, di seluruh kecamatan akan dilepas 3,2 ribu nyamuk ber-Wolbachia. Program ini akan berlangsung pada Agustus mendatang hingga enam bulan ke depan.

“Teknologi ini kan sudah berbasis bukti. Berbasis ilmiah yang dikembangkan Monash University Australia dan bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada Yogyakarta,” katanya.

Penulis : Ahmad Nugraha

Dapatkan update informasi Bekesah.co seputar Bontang dan Kalimantan Timur dengan bergabung di Whatsap grup ini. Cukup klik link di bawah ini

Advertisement

https://chat.whatsapp.com/L4DcfLR9YvdDkNKiF2cCPG