Trending

Tanggapan Ketua IDI Bontang Soal Tenaga Kesehatan Ogah Divaksin Covid-19

BEKESAH.co- Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bontang, Suhardi buka suara soal rencana Pemerintah Kota (Pemkot) memberikan vaksin Covid-19 kepada 800 tenaga kesehatan (Nakes) pada 14 Januari mendatang.

Dikatakan dr. Suhardi, ada 10 kandidat vaksin Covid-19 yamg saat ini dalam proses uji klinis fase 3. Salah satunya vaksin yang bakal diberikan kepada Nakes, Sinovac.

“Kalau Sinovac melemahkan virusnya. Diberikan dosis pada hari ke-0 dan ke-14,” katanya saat dihubungi Bekesah.co, Sabtu (9/1/2021).

Ketua IDI Bontang, dr. Suhardi

Meski begitu, ia menganggap wajar jika ada beberapa nakes yang menyatakan tidak siap divaksin, lantaran vaksin tersebut masih dalam tahap pengujian.

Menurutnya, pemerintah kurang mensosialisasikan terkait vaksin Sinovac, sehingga menimbulkan kekhawatiran nakes dan juga masyarakat. Pemerintah seharusnya secara gamblang membeberkan informasi terkait keamanan kandungan dan efek samping yang ditimbulkan ketika vaksin itu masuk ke tubuh manusia.

“Ya, memang untuk meyakinkan ke masyarakat butuh pembuktian kalau vaksin ini aman. Setidaknya pada tahap pemberian pertama, vaksin bisa berjalan lancar,” ujarnya.

Pun demikian, dr. Suhardi mengatakan efek ringan yang muncul dari pemberian vaksin Sinovac, yakni rasa meriang. Sedangkan efek beratnya terjadi anafilaktik syok.

Reaksi anafilaktik syok akan mengakibatkan penurunan tekanan darah secara drastis sehingga aliran darah ke seluruh jaringan tubuh terganggu.

Oleh karena itu, penyuntikkan vaksin Sinovac juga memiliki batas usia. Disebutkan dr Suhardi, umur minimal yang boleh mendapat vaksin sinovac adalah 18 tahun sedangkan umur maksimal 59 tahun.

“Untuk masalah usia sementara aman di bawah 59 tahun. Karena kalau usia lebih tua akan timbul efek samping yang lebih berat,” terangnya.

Rekomendasi Pertimbangan Pemberian Vaksin

dr. Suhardi mengatakan ada 4 pertimbangan yang direkomendasikan oleh Strategic Advisory Group of Experts on Immunization(SAGE) dalam pemberian vaksin.

Pertama, melihat kondisi epidemiologi di negara/daerah yang akan dapat vaksinasi. Faktor yang dinilai adalah insidens penyakit (jumlah
kasus baru) serta tiga pola penyebaran di masyarakat, penularan berkelanjutan, kasus sporadik/kluster dan tidak ada kasus.

Kedua, ketersediaan vaksin di negara tersebut. Dikatakan dr. Suhardi ada 3 skenario yang akan dilakukan. Di antaranya, pertama jumlahnya amat terbatas (1–10 perseb dari populasi), ke dua sudah mulai ada tapi masih terbatas (antara 11–20 oersen dari jumlah penduduk).

“Skenario ke tiga kalau ketersediaan moderat,
katakanlah 21–50 persen dari jumlah penduduk,” sebutnya.

Kemudian pertimbangan ketiga, karakteristik produk vaksin yang akan dipakai. Dalam hal ini, disadari bahwa kemungkinan masih ada perbedaan efektifitas vaksin pada kelompok tertentu. Jadi perlu ada skenario.

Baca juga: Tak Semua Tenaga Kesehatan Bontang Siap Divaksin Covid-19

“Perlu ada peta jalan kalau misalnya, vaksin sama efektifnya pada usia berapa saja, tapi juga perlu skenario lain kalau ternyata efektiftasnya lebih rendah pada usia tua, khususnya karena kemungkinan mortalitas pada usia lanjut juga lebih tinggi,” jelasnya.

Kemudian terakhir, perlu dipahami tentang bagaimana efektifitas vaksin pada mereka yang ada komorbid atau penyakit penyerta lainnya.(*)

Penulis : Maimunah Afiah

Tags

Related Articles

Back to top button
Close