Connect with us

Bontang

Pengusaha Tahu Tempe di Bontang Ini Kehilangan Omzet hingga Rp 30 Juta per Bulan

Published

on

BEKESAH.co- Meroketnya harga kedelai impor membuat pelaku usaha tahu tempe di Kota Bontang menjerit. Omzet menurun drastis.

Seperti yang dialami Mudawam. Salah satu produsen tahu tempe yang terletak di Gang Rawa Indah, Kelurahan Api-Api.

Mudawam yang sudah melakoni usahanya selama 30 tahun itu mengaku harga bahan baku tahu tempe saat ini melampaui batas standar harga dari biasanya. Pun kali pertama terjadi melonjak signifikan.

Biasanya, dia membeli kacang kedelai satu karung berat 50 kg dengan harga Rp 360 ribu. Namun saat ini harga satu karungnya sudah mencapi Rp 490 ribu. Setidaknya kenaikan harga mencapai Rp130 ribu setiap karungnya.

“Iya, mulai naik ini pas pertengahan Covid. Harga setiap karungnya hampir mencapai 500 ribu. Biasanya itu cuman naik 5 ribu aja, sekarang naik sekali,” katanya.

Advertisement

Mudawam terpaksa harus menaikkan harga tahu tempe yang akan dijual ke pelanggannya, supaya ia tetap bisa produksi.

Harganya pun variatif, untuk tempe ukuran kecil harga naik Rp 500 rupiah, semula dari harga Rp 3.500 kini menjadi Rp 4 ribu. Sedangkan untuk ukuran tempe besar dihargai Rp 9 ribu, sebelumnya Rp 8 ribu. Jadi naik seribu rupiah.

Kemudian untuk tahu, dijual dengan satuan kaleng. Setiap satu isian kaleng berjumlah 128 potongan tahu ukuran besar sedangan ukuran kecil berjumlah 200 potongan. Setiap kaleng itu dijual Rp 85 ribu, semula harga hanya Rp 80 ribu.

“Saya tidak terlalu pikirkan ada yang beli atau tidak, itu sudah biasa. Yang penting saya menjaga kualitas produk saya. Beberapa pelanggan juga tidak mempermasalahkan. Mereka lebih menaikkan harga ketimbang memangkas ukuran produksi,” jelasnya.

Disinggung mengenai keuntungan yang diperoleh selama harga kedelai naik, dirinya tidak mengungkapkan secara jelas berapa omzet yang dia dapatkan selama sebulan. Hanya saja Mudawam mengaku, setiap bulan omzetnya terpotong Rp 30 juta.

Advertisement

“Satu truk itu ada kenaikan sampai Rp 3 juta. Datang lagi naik lagi segitu. Jadi dalam sebulan itu memang masih untung, tapi kalo dihitung keuntungan terpotong sampe Rp 30 juta,” jelasnya.(*)

Baca Juga  Waspada Lubang di Poros Bontang-Sangatta

Penulis : Maimunah Afiah