Connect with us

Bontang

Kisah Perawat Pasien Corona RSUD Bontang, Menantang Maut Tiap Bertugas

Published

on

BEKESAH.co – Menjadi salah satu pasukan barisan terdepan menangani penyakit menular seperti corona virus disease 2019 (Covid-19) bukan hal yang mudah bagi Sumadi. Ia salah satu perawat yang bertugas di ruang isolasi RSUD Taman Husada Bontang.

Bagaimana tidak, ia dan 33 rekannya yang saat ini mengemban amanah di rumah sakit pelat merah itu termasuk kategori orang dengan risiko tinggi terinfeksi virus yang sudah menelan ribuan korban.

Seketika rasa khawatir dan syok berkecamuk, saat Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengumumkan ada dua pasien positif Covid-19 akan dirawat di rumah sakit tempat ia bekerja.

“Dinyatakan positif langsung syok semua, karena diawal kami pakai APD seadanya,” terangnya kepada Bekesah.co melalui aplikasi WhatsApp, Rabu (25/03/2020).

Belum lagi, ia dan petugas medis lainnya tidak diperbolehkan pulang ataupun keluar dari area rumah sakit, lantaran takut kecolongan si corona terikut dan menyebar, walaupun protokol kesehatan ketat diterapkan saat keluar dari rumah sakit.

“Perawat 25 orang. Yang bertugas di ruang isolasi 5 orang, di Ruang Seruni (ruang khusus pasien ODP) 10 orang, posko 10 orang. Kalau dokter ada 5 orang, dan petugas cleaning 4 orang. Sejak dinyatakan pasien pisitif, kami langsung dikarantina,” paparnya.

Enam tahun sejak Sumadi mengabdikan diri di RSUD Bontang, tahun ini jadi masa menegangkan dan terberat buatnya. Namun, perlahan rasa itu mulai surut, karena ia sadar merawat pasien sudah jadi kewajibannya meski dengan segala risiko. Belum lagi di masa seperti ini, petugas medis dan pasien harus saling menguatkan, karena tak ada keluarga maupun kerabat yang bisa mendampingi pasien kecuali perawat.

Di sisi lain, ia juga bersyukur meski harus berjauhan dengan anak dan istri yang tak kalah cemas, ia tetap mengantongi restu dan dukungan dari keluarga.

Advertisement

“Keluarga paham aja kenapa dikarantina, supaya yang di rumah tidak tertular. Demi kebaikan bersama,” pungkasnya.

Foto kiri: Petugas pengambil sampel pasien positif di RSUD Bontang. (Foto: Docs for bekesah.co)
Foto kanan: Para tenaga kesehatan di RSUD Bontang saat senam bersama di tengah karantina. (Dimas Satrio)

Pengap dan keringat bercucuran tentu ia rasakan kala menggunakan APD berjam-jam. Namun tak ada pilihan lain, ibarat perang, APD adalah satu-satunya sistem pertahanan yang bisa memberikan rasa aman saat menjalankan tugas. Apalagi dalam keseharian Sumadi langsung berkomunikasi bahkan bersentuhan dengan pasien.

“Was-was pastinya, karena APD juga terbatas. Sementara kami kontak langsung sama pasien ODP, PDP, dan positif,”

Sumadi tak tahu pasti, apakah saat ini stok APD lengkap masih mencukupi apa tidak. Yang ia tahu saat ini harus tetap fokus menjalankan tugasnya sebagai perawat. Ia menyerahkan semua kebutuhan pada manajemen rumah sakit, berharap alat tempur untuk melindungi memadai.

“Ada tambahan (hazmat, pakaian pelindung). Overall masih cukup buat besok (hari ini) di kami. Masih ada 5 pasang,” terangnya.

Ia menyebut, dalam sehari kebutuhan APD lengkap yang diperlukan 6 pasang untuk petugas di ruang isolasi dan Ruang Seruni tempat para ODP di rawat.

Para petugas kesehatan RSUD Bontang foto bersama di tengah karantina penanganan Covid-19. (Dimas Satrio)

Hingga kini, kondisi tim medis yang berjibaku melawan pandemi corona di RSUD Taman Husada Bontang sehat. Berbagai kegiatan mereka lakukan disela-sela waktu luang untuk mengusir kecemasan dan menikmati proses yang ada.

“Alhamdulillah sehat semua. Kami senam pagi sekalian berjemur biar virusnya hilang. Kami juga biasanya ngumpul main gaple atau nonton tv di kamar,” ujar Sumadi.

Sumadi berharap situasi yang menimpa Indonesia khususnya Bontang saat ini cepat berlalu. Ia dan seluruh petugas medis pun berharap para pasien mampu melewati ujian ini dan segera pulih. (*)

Penulis: Nur Aisyah Nawir

Advertisement

2022 © Bekesah.co