Trending

Khawatir Banjir Besar Datang Lagi, Neni Ngadu ke Gubernur Isran Noor

Bendungan pengendali air yang diusulkan Pemkot Bontang kembali ditagih

BEKESAH.co – Warga Bontang masih dibayangi banjir kiriman dari hulu yang merendam hampir separuh wilayah kota. Banjir paling parah disebutkan terjadi pertengahan 2019 lalu.

Paling tidak tujuh kelurahan digenangi banjir dengan tinggi bervariasi hingga yang terdalam setinggi 150 cm. Hingga kini, ancaman itu belum sirna karena masih bisa terjadi sewaktu-waktu.

Mencegah trauma berkepanjangan, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mendesak kembali realisasi pembangunan bendungan pengendali air di Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur.

“Pembangunan bendungan pengendali di Desa Suka Rahmat adalah upaya untuk mengantisipasi agar tak kembali terjadi banjir kiriman air dari hulu ke Bontang,” ujar Neni dalam video conference Musrenbang Provinsi Kaltim yang disaksikan Gubernur Kaltim Isran Noor, Selasa (28/4/2020).

Ia meminta Pemprov Kaltim serius menangani potensi banjir kiriman lantaran Bontang dikepung sejumlah aktivitas pertambangan di Kutai Kartanegara maupun Kutai Timur.

Menurut Neni, persoalan banjir tak bisa selesai jika tidak dilakukan secara terintegrasi. Pemkot Bontang menilai pembangunan waduk atau bendungan pengendali Desa Suka Rahmat solusi yang efektif untuk atasi banjir.

“Saya berharap Pak Gubernur, agar direalisasikan pembangunan bendungan ini. Agar banjir besar di Bontang tak terulang kembali,” mohon Neni.

Mengadu ke gubernur dianggap cara yang bisa dilakukan lantaran kawasan pembangunan bendungan yang dicanangkan itu di luar wilayah Kota Bontang sehingga tidak bisa tersentuh anggaran daerah.

Disayangkan, Musrenbang Provinsi Kaltim yang digelar virtual itu sekadar menampung penyampaian kepala daerah kabupaten/kota se-Kaltim. “Jadi tidak ada diskusi dulu ya,” kata Isran.

Mimpi Buruk Banjir

Dalam hitung-hitungan pemerintah Bontang, kerugian yang diakibatkan banjir mencapai Rp 75 miliar. Kurang lebih 15 ribu warga terdampak yang mengalami kerusakan materi maupun terhambat aktivitas ekonominya.

Sebagai wilayah yang berada di ketinggian 0-50 meter di atas permukaan laut (mpdl), Kota Bontang termasuk bersama Balikpapan dan Penajam Paser Utara yang berdiri di atas daratan terendah di Kaltim. Memunggungi laut sekaligus berhadapan langsung dengan sejumlah kawasan pertambangan batu bara yang riskan melakukan alih fungsi lingkungan.

Karena posisinya yang rendah, dipastikan menjadi muara gelombang air dari hulu. Ditambah berada di wilayah dengan masa musim penghujan yang cukup panjang seperti di Kaltim, selama Desember hingga Juni.

Jika terealisasi, paling tidak bendungan pengendali air yang diusulkan ini salahsatu ikhtiar pemerintah daerah untuk mengurangi resiko ancaman banjir delivery itu. (Sambil terus berkonflik dengan perusahaan pertambangan yang dituduh menjadi penyebab banjir, setiap tahun.Upss)

 

Penulis: Ismail Usman

Tags

Related Articles

Back to top button
Close