Trending

Cerita Pemilik Cafe Mutiara, Rasakan Hawa Rumah Panas Sebelum Kebakaran

Mak Sia juga bercerita, kala ia berteriak minta tolong namun kebanyakan hanya sibuk dengam ponselnya mengambil video

BEKESAH.co- Guratan kesedihan masih tampak jelas tersirat dari raut wajah Jumaiyah. Korban kebakaran Bontang Kuala Selasa (13/10/2020) lalu.

Mak Sia, begitu ia disapa, masih belum menyangka akan kehilangan tempat tinggal dan usahanya Cafe Mutiara dalam sekejab.

Matanya nanar. Memandang kegersangan kawasan yang sudah 30 tahun di tempati. Hanya tersisa puing-puing. Semua menghitam.

Kala itu, Mak Sia baru saja selesai salat Magrib. Ia mendengar suara letupan dari loteng rumahnya.

“Setelah magrib itu kan saya istirahat salat. Perasaan saya itu sekitar jam 7 lah, saya dengar ada suara meletuk di atas. Cuman saya belum tahu, jadi saya masih bebaringan aja di kamar,” ujar Mak Sia.

Wajah Mak Sia mendadak pucat. Badannya gemetaran. Perempuan usia 60 tahun itu terkejut melihat kobaran api di kamar anaknya.

Si jago merah makin menggila. Lantaran material rumah kebanyakan berbahan kayu. Merembet cepat ke lantai bawah. Melahap rumah dan juga tempat usahanya. Serta rumah para tetangga.

“Saya sudah teriak-teriak. Tolong-tolong, tapi masyarakat hanya datang tapi cuman video saja,” tuturnya.

Sebelumnya, ia memang sudah merasa aneh. Seharian hawa rumah terasa panas. Namun ia tak mengira, perasaan mengganjal yang dirasa itu jadi peristiwa nahas.

Kata Mak Sia, rumah semi permanen itu belum lama ditingkat. Baru lima tahun yang lalu. Di lantai atas, ada kamar yang kerap ditempati putra bungsunya.

Beruntung, saat itu anak Mak Sia tidak di ruangan itu. Sumber api bermula. “Dia mau pergi melaut dan minta uang sama saya 10ribu untuk beli bensin,” pungkasnya.

Mak Sia panik, ia berupaya keluar dari kobaran. Namun memberanikan diri masuk lagi. Mencoba selamatkan tabungan dan uang hasil dagangan.

“Saya baru ingat saya punya tabungan dan saya kembali masuk ambil emas dan uang tunai 20juta sama sisa uang dagangan 600ribu” terangnya.

Hanya itu yang bisa ia selamatkan. Lainnya sudah hangus terbakar. Pun pakaian hanya yang dibadan.(*)

Penulis: Iqbal Tawakkal

Tags

Related Articles

Back to top button
Close