Connect with us

Bontang

Bakhtiar Wakkang dan Masata Tak Setuju Buaya Guntung Direlokasi, Perlu Dibuatkan Penangkaran

Published

on

Anggota Komisi II DPRD Bontang Bakhtiar Wakkang dan Ketua MASATA Eko Sartriya.

BEKESAH.co, Bontang – Anggota DPRD Bontang dari Partai Nasdem, Bakhtiar Wakkang, berharap ada solusi yang diberikan pemerintah dari konflik warga dan buaya di bantaran Sungai Guntung.

Menurutnya, ada celah yang bisa digunakan untuk menyelesaikan kekhawatiran yang selama ini disuarakan. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati buaya merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi.

“Masyarakat bisa memelihara buaya setelah memeroleh izin dari BKSDA, izinnya berupa penangkaran. Bisa perseorangan atau lembaga penangkar, nantinya dia  punya hubungan kemitraan dengan BKSDA,” terang BW saat menghubungi redaksi Bekesah, Kamis (14/9/2023).

Dia menjelaskan, konflik antar manusia dan buaya di Guntung, tak bisa dipukul rata dengan alasan merolaksi karena membahayakan nyawa. Kedekatan nelayan Guntung, Ambo dan buaya Riska semestinya perlu menjadi perhatian khusus.

Advertisement

“Pak Ambo bisa diberikan asssement atau penilaian dari BKSDA, melihat kedekatannya dengan buaya Riska. Bontang juga bisa dikenal lewat konten-konten Pak Ambo dengan Riska di channel Youtubenya,” ungkapnya.

Terlebih lagi lanjut BW, selama ini hasil konten itu merupakan salah satu sumber mata pencaharian dari Ambo. “Perlu pertimbangan pemerintah, bagaimanapun Ambo cari makan dan hidup dari situ,” katanya.

Lebih lanjut, BW mengatakan, sikap Wakil Ketua DPRD Agus Haris yang setuju buaya direlokasi merupakan pendapata pribadi, bukan DPRD secara kelembagaan. “Wajar-wajar saja kalau unsur pimpinan berpendapat. Tapi itu bukan sikap DPRD secara kelembagaan,” katanya.

Senada, Ketua DPC Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Bontang  Eko Satrya mengatakan perlu menciptakan wisata timba berbasis konservasi. Mengingat Ambo dan buaya Riska adalah ikonik pariwisata Indonesia.

Advertisement

Dia mengatakan, konsep wisata berbasis konservasi ini berangkat dari rasa keprihatinan akan keberadaan buaya riska dan pak ambo yang “seakan-akan” menjadi penyebab adanya buaya yang menyerang warga dan bahkan menjadi semakin dipermasalahkan oleh pihak terkait dengan dilakukannya tindakan relokasi atas buaya Riska.

Baca Juga  Gudang Bulog di Bontang bakal Suplai Pangan ke 4 Daerah Ini

Menurut MASATA dengan adanya keberadaan buaya riska dan pak ambo maka dapat menjadi peluang untuk tempat wisata dan berkonsep konservasii.

“Mengapa? karena diharapkan dapat memberikan solusi dan asas manfaat kepada masyarakat sekitar, sekaligus bisa menjadi tempat edukasi  dan memberi pemahaman guna tetap menjaga kelestarian buaya di habitat asli khususnya dan keseimbangan alam umumnya. Selain itu di sisi ekonomis dapat tercapai juga peningkatan ekonomi untuk masyarakat sekitarnya,” paparnya.

Dia melanjutkan, ketika ramai berita tentang warta diterkam buaya beberapa waktu yang lalu, ia  jadi teringat saat bersama Panji Petualang mengunjungi buaya Riska dengan didampingi Ambo tahun lalu. Panji cukup terkejut karena habitat buaya di sungai guntung kanibungan hidup damai dengan warga yang hari-hari berprofesi sebagai nelayan melewati sungai.

Advertisement

Pertanyaan MASATA, mengapa ada buaya menyerang manusia? Panji menjawab karena makanan alami mereka habis.

Dari referensi tentang buaya, buaya muara umumnya makan kepiting, udang,  Ikan, burung serta reptil dan jenis mamalia kecil. Pada dasarnya buaya tidak memangsa manusia.

“Namun ketika wilayah yang menjadi “Kampung Buaya” mengalami penurunan jumlah makanannya, maka buaya akan mencari tempat baru yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan kata lain mengungsi. Salah satu faktor penyebab buaya mengungsi adalah pembangunan yang mengalihfungsikan kawasan habitat buaya menjadi sebuah kebutuhan manusia, perambahan hutan, pembukaan lahan dan lain sebagainya yang menyebabkan terusiknya kehiduoan dan putusnya mata rantai ekosistem makanan buaya,” terangnya.

“Sebenarnya buaya Riska tidak menimbulkan masalah untuk warga Guntung, selama  keseimbangan dan kelestarian lingkungan itu sendiri dapat terjaga,” pungkasnya:

Advertisement

Penulis : Redaksi Bekesah.co

Dapatkan update informasi Bekesah.co seputar Bontang dan Kalimantan Timur dengan bergabung di Whatsap grup ini. Cukup klik link di bawah ini

https://chat.whatsapp.com/L4DcfLR9YvdDkNKiF2cCPG

Advertisement
Baca Juga  Anggaran Dinas Pariwisata Kutim Rendah, Dewan Dorong Pemkab Beri Tambahan