Connect with us

Bontang

59 Kasus DBD Bontang, 1 Orang Meninggal

Published

on

BEKESAH.co, Bontang – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bontang mulai mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan dalam dua bulan terakhir ini mencatat, kasus DBD di Bontang sebanyak 59 kasus.

Terlebih kasus DBD belakangan ini juga tengah meningkat hingga menelan korban jiwa di beberapa kabupaten/kota lainnya.

Baca Juga  Ada 655 Kasus DBD Sepanjang 2019 di Bontang, Mesti Tetap Waspada

Sebenarnya nyaris semua kelurahan di Bontang memiliki kasus DBD. Namun kelurahan yang memiliki presentasi DBD tertinggi berada di Tanjung Laut, dengan jumlah 9 kasus.

Sementara Kelurahan Bontang Lestari, Guntung, dan Bontang Kuala nol kasus. Sedangkan Api-api satu kasus dan Kanaan 2 kasus. Kemudian Gunung Elai dan Gunung Telihan 3 kasus.

Selanjutnya Satimpo dan Belimbing dengan 4 kasus dan Bontang Baru, Berbas Pantai lima kasus, lalu Tanjung Laut Indah 7 kasus.

Advertisement

Terakhir Berbas Tengah dan Loktuan sama-sama memiliki 8 kasus. Bahkan data yang dihimpun, terdapat 1 kasus orang meninggal dunia di Tanjung Laut akibat DBD.

Kepala Dinas Kesehatan atau Kadinkes Bontang dr Toetoek Pribadi mengatakan, kasus DBD belakangan ini tengah meningkat.

Namun tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab pencegahan DBD ini bisa dilakukan dengan cara lama, yakni 3M plus. Menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas.

Kemudian tentu setiap orang juga harus menghindari gigitan nyamuk dengan memasang kelambu dan membakar obat nyamuk.

Langkah ini dianggap lebih mujarab ketimbang pemerintah melakukan fogging alias pengasapan di rumah penduduk.

Advertisement

“Itu langkah paling efisien. Daripada fogging yang ongkosnya lebih mahal,” kata Toetoek dikonfirmasi belum lama ini.

Menurut mantan PLT Dirut RSUD ini, Diskes Bontang saat ini lebih menggencarkan kegiatan edukasi kepada publik terkait kesadaran akan bahaya DBD, yaitu dengan lebih mengedepankan gaya hidup sehat yang dimulai dari lingkungan tempat tinggal.

Pasalnya, bila mengharapkan fogging maka selain beban anggaran kepada pemerintah, masyarakat yang juga dapat mengajukan secara mandiri akan menguras isi kantong.

“Karena pakai pengasapan model seperti itu harus pakai pestisida. Selain beban anggaran, fogging juga bahaya untuk hewan ternak bila salah takaran,” tuturnya.

Toetoek juga menjelaskan saat ini Bontang dipilih menjadi pilot project atas percobaan metode baru dalam melenyapkan DBD, yakni Wolbachia Project.

Advertisement

Dalam proyek itu, secara sederhana Pemerintah bakal menyebar varian nyamuk Wolbachia.
Nyamuk itu kemudian akan kawin silang dengan nyamuk aedes yang menyebarkan DBD.

Bila berhasil, virus nyamuk DBD akan lumpuh dan tidak menyebarkan demam berdarah lagi.

Tetapi untuk memantapkan program ini, Dinkes Bontang berencana melakukan studi banding ke Yogyakarta.

Jika ini berhasil, ia memastikan pola penanganan akan berbeda. Sudah tidak mengandalkan fogging dan menabur abate.

“Yah Bontang terpilih pilot project. Itu nyamuk Aedes Aegepty kawin dan menelurkan jentik. Nanti jentik itu akan ber-wolbachia. Jadi tidak perlu lagi fogging dan pakai abate,” jelas dia.

Advertisement

Sementara waktu ini, pemerintah tetap mengandalkan fogging. Hanya saja lokasi penyemprotan akan dipilih secara selektif dan tidak hanya berdasarkan laporan warga.

“Yang lebih kami tekankan itu, terkait pantauan mandiri masyarakat. Dengan memastikan proses 3M plus dilakukan,” bebernya.

Penulis : Ahmad Nugraha