Connect with us

Bontang

Semangat Kakek Aziz Penjual Ikan dari Tanjung Limau, yang Pantang Ngemis

Published

on

BEKESAH.co, BONTANG – “Kresseek kresssek….” bunyi kantong plastik yang baru saja dibuka. Aroma amis ikan yang masih segar begitu terasa saat masuk menuju lubang hidung ketika menciumnya.

Kantong plastik putih berisi ikan bawis, ketamba, dan cumi itu rupanya dagangan seorang pria sepuh. Postur tubuhnya pun sudah mulai membungkuk.

Baca juga:  Musisi Muda asal Bontang, Cover Lagu, hingga 1,3 Juta Subscriber

Kakek Aziz atau Amure, begitu ia disapa. Setiap harinya menjajakan jualan dari rumahnya di Tanjung Limau menuju Jalan Bhayangkara tepat di depan toko yang menjual alat tulis kantor (ATK), Anugerah Terang.

Mulai dari pagi sekitar pukul 07.00 Wita saat warga Bontang kebanyakan masih bersiap beraktifitas, kakek perantau asal Bone itu sudah mengayuh sepeda mencari peruntungan.

“Pagi-pagi biasanya saya jualan nak. Saya ambil ikan dulu sama orang baru saya jual,” beber kakek Aziz.

Sudah enam tahun sepeninggal istrinya, kakek Aziz berjualan ikan di sekitar Jalah Ahmad Yani, Imam Bonjol, lalu ke jalan Bhayangkara dengan sepeda bututnya.

“Sekarang umur sudah 70 tahun nak,” katanya sambil menutup kantong plastik yang baru saja diperlihatkan ke penulis.

Kendati usianya sudah sepuh, semangat kakek Aziz untuk mencukupi kebutuhan hidupnya patut diapresiasi. Dia berkelakar, selama masih ada rezeki dan mau berusaha dia akan terus berjualan.

Baginya, tak ada sedikitpun niat untuk meminta-minta. Dia berprinsip, selagi masih bisa berusaha, untuk apa berharap belas kasih dari orang.

Advertisement

Namun diakuinya, dalam sehari ada saja orang dermawan yang memberinya rezeki. Baik berupa uang ataupun makanan.

“Saya tidak minta, saya kira ikan saya mau dibeli. Alhamdulillah saya dikasih,” kata kakek Aziz.

Sekitar tiga tahun lalu, aku kakek Aziz ia berjualan hingga ke Kelurahan Kanaan. Namun nasib apes pernah dialaminya. Ada warga yang pernah mengambil ikannya begitu saja. Tanpa membayar sepeser pun. Ingin membalas, tapi ia sadar jika beradu fisik sudah pasti dia akan kalah.

“Itu yang paling saya ingat nak. Mukanya juga. Makanya saya nda mau lagi kesana,” gumamnya sambil matanya berkaca.

Untuk seikat kantong ikannya, Aziz menjual berkisar Rp 40-50 ribu. Berdagang tentunya tak setiap hari ikan yang dijual laku. Terkadang ada hari dimana ia pulang dengan ikan yang masih utuh.

Namun, ia menyadari itu sudah resiko berdagang. Kakek Aziz, sebenarnya memiliki anak. Namun, karena anaknya pun sudah berkeluarga ditambah pekerjaannya yang hanya ikut melaut dengan orang membuat dia tidak ingin merepotkan anaknya.

Pengamatan penulis, Kakek Aziz orang yang mudah sekali dikenali. Ciri khas kake ini menggunakan topi safari dengan stelan baju kaos serta celana panjang. Tak jarang, pengendara melihatnya di pinggir jalan langsung memanggilnya dengan sebutan “Amure” yang dalam bahasa Suku Bugis, Sulawesi Selatan dimaknai paman.

Nah Kawan Bekesah kalau kebetulan melihat Kakek Aziz berjualan, tak ada salahnya untuk sedikit membantunya. Cukup dengan membeli seikat ikan yang ia jual. Itung-itung sedekah dengan Kakek Aziz.

Penulis : Ahmad Nugraha

Advertisement

Continue Reading
Advertisement

2022 © Bekesah.co