Connect with us

Sport

Keita: Juergen Klopp Tak Punya Anak Emas di Liverpool

Published

on

Naby Keita tidak datang ke Liverpool hanya untuk mengisi bangku cadangan. Liverpool rasanya bukan tim yang kurang kerjaan dan doyan buang-buang uang hanya untuk membikin bench tampak penuh di setiap laga.

Liverpool mengikat kerja sama dengan Keita pada musim panas 2017. Meski demikian, pemain Guinea itu baru bisa angkat kaki dari RB Leipzig dan membela Liverpool pada 2018/19.
Yang terjadi di Liverpool jauh berbeda dengan harapan. Keita bertanding 33 kali bersama Liverpool di semua kompetisi resmi 2018/19. Ia mengumpulkan 1.817 menit bermain atau rataan 55 menit per laga dalam kurun tersebut.
Okelah, itu masih musim perdana. Hingga akhir Oktober 2019, tanda-tanda perubahan nasib Keita belum tampak. Ia baru bermain lima kali bersama Liverpool di seluruh kompetisi 2019/20.
Dari lima laga itu, hanya sekali Keita turun arena di Premier League. Itu pun hanya 14 menit jika menghitung sampai injury time rampung.
Jam terbang yang minim membuat Keita ‘dibenturkan’ dengan dua rekannya, Mohamed Salah dan Sadio Mane. Spekulasi yang berembus menyebut keduanya sebagai anak emas Juergen Klopp.
Keita membantah. Di matanya, Klopp adalah pelatih yang adil. Mantan pelatih Borussia Dortmund itu memang tidak bisa memainkan seluruh pemain dengan menit bermain yang identik. Namun, apa pun keputusan taktisnya, seluruh pemain selalu dilibatkan.
“Saya yakin ia bukan tipe pelatih yang memiliki pemain favorit atau pilih kasih. Ia mengomunikasikan semuanya dengan sangat bebas dan terbuka kepada seluruh pemain,” jelas Keita, dilansir Sky Sports.
“Ia suka tertawa dan bercanda. Ia memiliki hubungan yang luwes dengan seluruh pemain,” lanjut Keita.
Masalah terbesar Keita bukan sistem pertandingan yang tidak cocok, tetapi cedera. Ia absen 19 kali karena cedera sejak datang ke Liverpool. Toh, Keita berulang kali menunjukkan bahwa ia bisa nyetel dengan sistem permainan Klopp meski jarang turun arena.
Salah satu contoh adalah laga melawan Manchester United yang cuma dilakoninya selama 14 menit. Liverpool merupakan satu-satunya tim yang belum kalah di Premier League 2019/20. Melawan United, Liverpool justru dekat dengan kekalahan perdana.
Bagaimana tidak? Pasukan Klopp belum berhasil mencetak gol penyama kedudukan ketika pertandingan memasuki menit 80-an.
Klopp akhirnya memasukkan Keita pada menit 82. Keita tidak mau menyia-nyiakan menit bermain yang jelas tidak seberapa itu. Ia menciptakan umpan kunci yang membidani kelahiran gol Adam Lallana pada menit 85.
Proses gol itu bermula dari umpan Fabinho kepada Keita. Mengambil posisi di kanan pertahanan, Keita melepas umpan terobosan yang diterima Andrew Robertson. Umpan Robertson berubah menjadi assist karena berhasil dikonversi menjadi gol.
Keita akhirnya bermain penuh di laga Liga Champions melawan KRC Genk. Ia memang tidak membuat gol dan assist di laga itu, tetapi bukan berarti tak berkontribusi.
Keita punya peran penting untuk menginisiasi serangan maupun menjaga distribusi bola tetap lancar. Ia membuat tiga dribel sukses di sepanjang laga, terbanyak di antara seluruh pemain kedua tim. Bersama Mane dan Fabinho, Keita menjadi pemain Liverpool yang paling banyak membuat tekel sukses, yaitu tiga tekel.
Keita menjawab spekulasi soal Mane dan Salah dengan cara mirip Klopp, dengan melempar candaan. Katanya, ia bakal berusaha sedapat mungkin menjadi seperti Mane atau Salah sehingga bisa menjadi kesayangan Klopp.
Namun, rasanya Liverpool tidak membutuhkan Mane atau Salah yang lain jika melihat dampak yang diberi Keita dalam waktu minim. Cukup Mane dan Salah yang sekarang. Cukup Keita yang sekarang.

2022 © Bekesah.co