Connect with us

Bontang

Awalnya Hobi, Emak-Emak Lok Tuan Ini Produksi Minyak Gosok ke 32 Daerah

Published

on

 “Kalau bukan hobi, susah untuk mempertahankannya. Karena harus pakai hati,”

Sepenggal kalimat dari Asma kepada penulis. Seorang perempuan paruh baya yang kini bisa meraup cuan dari hasil budidaya pelbagai jenis tanaman herbal di pekarangan rumahnya.

Ahmad Nugraha, BEKESAH.co

  Sosoknya seperti biasa saja. Layaknya ibu rumah tangga pada umumnya. Mengenakan daster lengkap dengan jilbab cokelat muda yang sampai sebahu orang dewasa. Pembawaannya tenang bicara dengannya terasa seperti bicara dengan pengajar.

Ya, benar. Asma warga Lok Tuan ini merupakan seorang guru di salah satu sekolah Islam swasta yang tidak jauh dari rumahnya. Selain bekerja sebagai pengajar rupanya wanita berusia 50 tahun ini memiliki kelompok usaha yang ia kelola bersama ibu-ibu dekat rumahnya, Makrifah Herbal.

Ditemui di kediamannya, Asma menceritakan awal mula merintis usaha yang kini sudah menembus pasar nasional itu. Berawal dari kecintaanya bersama suami menanam sayuran di pekarangan rumah. Sekitar 2013. Saat itu tidak terbesit di benak Asma akan memulai usaha dari hasil hobinya ini.

Dari pekarangan rumanhya, Asma membudidayakan berbagai jenis tanaman herbal (Nugrah/Bekesah.co)

“Dulu itu tanam-tanam sayur aja. Seperti tomat, terong, lombok, jeruk, kemangi. Cuman untuk dikonsumsi pribadi,” kenang Asma sembari tersenyum.

Hobi tanam sayur itu pelan-pelan dilirik kelurahan. Pihak kelurahan lantas mengajak Asma untuk diikut sertakan pada perlombaan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Pemanfaatan pekarangan tingkat kota. Benar saja, prestasi moncer selalu ia torehkan. Selalu menang mewakili Kelurahan Lok Tuan.

Pertautan dengan program kemitraan

Advertisement

Pada akhir medio 2016, nasib baik sepertinya berpihak ke alumnus IAIN Alauddin Pendidikan Agama Islam itu. Dia tidak menyangka rumahnya bakal didatangi departemen CSR PT Pupuk Kaltim yang menawarkan menjadi mitra binaan perusahaan.

Bahkan Asma berkelakar, kala itu dia tidak mengetahui program dan tujuan dari CSR.

“Iya-iya aja saya sama suami,” ungkapnya.

Tak lama berselang, ia dibantu pendanaan oleh perusahaan. Kaget, dan bingung. Perasaan bercampur aduk. Baru kemarin rasanya ditawarkan, kini dana langsung diberikan.

“Saya kaget kok banyak banget,” kenangnya sambil tertawa mengingat memori beberapa tahun lalu.

Duit perdana yang dikucurkan kepadanya tak dibiarkan begitu saja. Baginya, ini seperti tantangan yang harus ia selesaikan dan buktikan.

“Iya mas dikasih dana harus kita putar otak bagaimana tanggung jawabnya,” katanya

Dana itu kemudian, ia gunakan untuk membangun greenhouse. Komposisi yang ia tanam tersedia berbagai tanaman obat keluarga (Toga) total berkisar 30 jenis.

Dia menuturkan, mengetahui setiap jenis tanaman obat beserta khasiatnya diperoleh secara otodidak. Berbagai literasi ia baca. Mulai dari buku-buku tradisional hingga berselancar di dunia maya. Semangat ingin tahunya semakin tinggi.

Advertisement

“Awalnya saya ambil di Guntung. Kebetulan di situ ada kelompok usaha enggang herbal. Sambil belajar di sana,” aku Asma.

Pelan-pelan dia mulai mengetahui satu per satu jenis tanaman beserta manfaatnya. Bahkan, semenjak mulai serius mendalami tanaman herbal, khazanah keilmuannya bertambah. Misal, ada banyak tanaman yang selama ini dianggap sebagai tanaman yang tumbuh liar. Namun kaya akan khasiat. Seperti daun miana yang rupanya berfungsi untuk meredakan batuk.

Libatkan tetangga produksi minyak gosok

Tepat di tahun 2017 kelompok Makrifah Herbal resmi menjadi mitra binaan PKT. Saat awal-awal berdiri, Asma hanya melibatkan 3-4 orang tetangganya. Kini, ia sudah memberdayakan sekitar 25 orang ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar rumahnya.

Tepat sekitar sembilan bulan tanaman herbal yang ia tanam tumbuh sehat. Kemudian muncul ide memproduksi minyak gosok.

Namun, sedikit ilmu yang ia peroleh dari modal bacaan buku nyatanya tidak cukup untuk memproduksi minyak gosok massal. Seabrek syarat harus dilengkapi. Butuh uji lab, hieginitas, izin edar untuk produk dapat dipasarkan.

Aneka produk dari Makrifah Herbal yang tembus ke 32 daerah di Indonesia.

Lagi-lagi perusahaan punya peran besar. Asma dan rekan-rekannya diberangkatkan untuk dibekali pelatihan pada 2018 di Balai Penilitian Tanaman, Rempah, dan Obat (Balittro) di Bogor.

“Seminggu dilatih untuk pengembangan produk. Dalat Ilmunya banyak. Sempat stres,” candanya.

Bukan tanpa sebab, Asma merasa terbebani. Sudah dimodali dan diberikan pelatihan jauh-jauh hingga keluar daerah. Setidaknya ada hasil dari pelatihan itu yang bisa ia tunjukkan.

Hal itu ia jadikan pelecut. Hasilnya tidak berselang lama dari pelatihan akhirnya Makrifah Herbal memproduksi minyak telon, minyak anti nyamuk, sabun, dan lain-lain.

Advertisement

“Tidak gampang buat minyak. Harus ada izin edar, dari BPOM, dan sertifikat halal dari MUI dan Depag. Semua dibantu PKT,” bebernya.

Diakui Asma, dari sekian banyak produk turunan yang ia produksi. Minyak gosok menjadi produk unggulan. Terbuat dari 40 jenis tanaman. Minyak ini dipercaya bisa mengobati berbagai macam penyakit. Mulai dari sakit pinggang, pegelinu, gatal, tersiram air panas, luka gores, dan segala macam penyakit kulit.

Untuk satu botol minyak gosok, dibanderol dengan harga Rp 65 ribu saja.

Penghargaan

Berkat kerja kerasnya bersama tim, usaha Makrifah Herbal diganjar berbagai penghargaan. Pada 2020 penghargaan Sidakarya dari Gubernur Kaltim, dan 2021 Paramakarya dari Kementerian Tenaga Kerja atas produktifitas mereka.

Pada 2021 berkat jaringan yang ia bangun minyak herbalnya kini dipasarkan di 32 kota di seluruh Indonesia. Mulai pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Tidak berpuas diri begitu saja, Makrifah Herbal kini melakukan pengembangan lini usaha. Itu ditandai dengan tersedianya core bisnis usaha baru yakni Spa dan lulur tradisional yang sudah tersertifikasi langsung dari Martatilaar. Serta membangun LPK dan LKP sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota.

Teranyar, pihaknya juga sudah melayani jasa catering. Ke depan, Asma juga berencana membangun Griya Sehat. Sebuah wadah yang difungsikan menjadi sarana untuk mengenalkan obat-obatan herbal ke masyarakat.

Konsepnya, memberikan jasa konsultasi bagi masyarakat yang ingin tahu kegunaan serta manfaat setiap tanaman.

Advertisement

“Misalnya ada keluhan hipertensi, jadi kami rekomendasikan obatnya tanaman yang sesuai khasiatnya,” terangnya.

Asma berharap, setelah exit dari program mitra binaan, Makrifah Herbal akan terus bertumbuh memberikan manfaat kepada siapa saja.

Dukungan Pemkot Bontang

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bontang Najirah memberi atensi khusus kepada program mitra binaan PT Pupuk Kaltim. Lewat penyaluran dana dan program pembinaan corporate social responsibility (SCR) ini, masyarakat sangat merasakan dampaknya. Apalagi warga Lok Tuan yang berdampingan langsung dengan perusahaan jadi terberdayakan.

Menurutnya, ini menjadi bukti perusahaan ikut menggerakkan roda perekonomian warga. Dia berharap program ini dapat terus berkelanjutan. Bisa menjadi pemantik bagi warga lain untuk berinovasi meskipun terkendala dana. Karena, perusahaan tidak mungkin diam melihat kelompok usaha seperti Makrifah Herbal yang memiliki nilai ekonomis dan kebermanfaatan.

“Terima kasih kami ucapkan kepada PKT atas semua bantuannya kepada masyarakat Kota Bontang,” ucapnya.

 

 

Advertisement

2022 © Bekesah.co